Download kombinasi latihan eksentrik m.gastrocnemius dan latihan plyometric

Survey
yes no Was this document useful for you?
   Thank you for your participation!

* Your assessment is very important for improving the workof artificial intelligence, which forms the content of this project

Document related concepts
no text concepts found
Transcript
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1
Pengertian Agility
Agility didefinisikan sebagai kemampuan manuver dari tubuh, yaitu
kemampuan merubah posisi dan arah tubuh atau bagian tubuh dengan cepat.
Sedangkan menurut beberapa ahli lainnya, agility didefinisikan sebagai
kemampuan untuk merubah arah dan posisi tubuh dengan cepat dalam keadaan
bergerak, tanpa kehilangan keseimbangan. Faktor heriditer atau genetik
merupakan faktor utama pada tingkat agility seseorang. Agility juga tergantung
pada kekuatan otot, kecepatan, koordinasi, dan keseimbangan dinamik (Miller,
2010).
Agility adalah kemampuan untuk merubah arah dan posisi tubuh dengan
cepat dalam keadaan bergerak, tanpa kehilangan keseimbangan. Pendapat para
ahli bahwa agility adalah kemampuan untuk merubah arah dan posisi tubuh
dengan cepat dalam keadaan bergerak, tanpa kehilangan keseimbangan. Agility
terdiri pada beberapa komponen yaitu kekuatan otot, kecepatan, koordinasi, dan
keseimbangan dinamik (Mark,2010).
Agility merupakan hal dasar yang dimiliki tubuh baik untuk beraktivitas
fungsional, kemampuan dalam berolahraga seperti kemampuan untuk gerak cepat
dan berhenti mendadak, perubahan arah dengan cepat, efisien dan penyesuaian
gerak kaki pada tubuh atau bagian tubuh pada saat melakukan aktivitas olahraga.
Setiap individu dengan agility yang baik memiliki kesempatan lebih baik untuk
sukses dalam aktivitas fisik dibandingkan dengan individu dengan agility yang
9
10
buruk. Dikatakan demikian karena agility sendiri merupakan aspek dari beberapa
kondisi fisik yang harus dimiliki untuk meningkatkan performa dan menghindari
individu dari cidera (Jay, 2011).
2.1.1 Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Agility
Agility merupakan kombinasi dari kecepatan, kekuatan otot, kecepatan
reaksi, keseimbangan, fleksibilitas, dan koordinasi neuromuskular. Dengan kata
lain faktor –faktor yang mempengaruhi agility ialah kecepatan, kekuatan otot,
keseimbangan, fleksibilitas, dan koordinasi neuromuscular.
1. Kekuatan otot
Kekuatan otot adalah kemampuan otot atau group otot menghasilkan tegangan
dan tenaga selama usaha maksimal baik secara dinamis maupun statis. Kekuatan
otot juga dapat diartikan sebagai kekuatan maksimal otot yang ditunjang oleh
cross-sectional otot yang merupakan kemampuan otot menahan beban maksimal
pada aksis sendi (Carolyn, 2007).
Otot dalam berkontraksi dan menghasilkan tegangan memerlukan suatu tenaga
atau kekuatan. Kekuatan mengarah kepada output tenaga dari kontraksi otot dan
secara langsung berhubungan dengan jumlah tension yang dihasilkan oleh
kontraksi otot, sehingga meningkatnya kekuatan otot berupa level tension,
hipertropi, dan rekruitment serabut otot. Karena kekuatan merupakan salah satu
komponen dari kecepatan, maka semangkin besar kekuatan dalam melakukan
suatu gerakan, semangkin besar pula tenaga eksplosif yang terjadi sehingga akan
mampu mingkatkan agility (Carolyn, 2007).
11
2. Fleksibilitas
Fleksibilitas merupakan kemampuan untuk menggerakan sendi-sendi dalam
jangkauan gerakan penuh dan bebas. Keluwesan otot dan kebebasan gerak
persendian sering dikaitkan dengan hasil pergerakan yang terkoordinasi dan
efisien. Kelenturan diarahkan kepada kebebasan luas gerak sendi atau ROM.
Fleksibilitas juga faktor penting yang mempengaruhi agility. Semangkin lentur
jaringan otot atau jaringan yang secara bersama-sama bekerja seperti sendi,
ligament, dan tendon akan di dapat peningkatan agility (Carolyn, 2007).
3. Kecepatan
Kecepatan adalah kemampuan untuk melakukan gerakan-gerakan yang sejenis
secara berturut-turut dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, atau kemampuan
untuk menempuh sesuatu jarak dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
Kecepatan bukan hanya berarti menggerakan seluruh tubuh dengan cepat, akan
tetapi dapat pula terbatas pada menggerakkan anggota-anggota tubuh dalam waktu
yang sesingkat-singkatnya. Kecepatan adalah keterampilan dan kemampuan yang
dibutuhkan untuk mencapai kecepatan pergerakan tinggi. Kecepatan tergantung
dari faktor yang mempengaruhinya, yaitu kekuatan, waktu reaksi (reaction time),
dan fleksibilitas. (Larry, 2004).
4. Keseimbangan
Keseimbangan adalah kemampuan untuk mempertahankan keseimbangan
tubuh ketika ditempatkan di berbagai posisi. Keseimbangan adalah kemampuan
12
untuk mempertahankan pusat gravitasi pada bidang tumpu terutama ketika posisi
tegak (Davies, 2004).
Selain itu keseimbangan adalah kemampuan untuk mempertahankan tubuh
dalam posisi kesetimbangan maupun dalam keadaan statik atau dinamik, serta
menggunakan aktivitas otot yang minimal. Keseimbangan melibatkan berbagai
gerakan di setiap segmen tubuh dengan didukung oleh sistem muskuloskletal dan
bidang tumpu. Kemampuan untuk menyeimbangkan massa tubuh dengan bidang
tumpu akan membuat manusia mampu untuk beraktivitas secara efektif dan
efisien. Keseimbangan merupakan interaksi yang kompleks dari integrasi atau
interaksi sistem sensorik (vestibular, visual, dan somatosensorik termasuk
proprioceptor) dan muskuloskeletal (otot, sendi, dan jaringan lunak lainnya) yang
dimodifikasi atau diatur dalam otak (kontrol motorik, sensorik, basal ganglia,
cerebellum, area asosiasi) sebagai respon terhadap perubahan kondisi internal dan
eksternal (Thomas, 2005).
A. Komponen – Komponen Pengontrol Keseimbangan
1) Sistem Informasi Sensori
Sistem informasi sensori meliputi visual, vestibular, dan somatosensoris.
Visual memegang peran penting dalam sistem sensoris. Keseimbangan akan
terus berkembang sesuai umur, mata akan membantu agar tetap fokus pada
titik utama untuk mempertahankan keseimbangan, dan sebagai monitor tubuh
selama melakukan gerak statik atau dinamik. Dengan informasi visual, maka
tubuh dapat menyesuaikan atau berinteraksi terhadap perubahan pada
lingkungan aktivitas sehingga memberi kerja otot yang sinergis untuk
mempertahankan keseimbangan tubuh. Komponen vestibular merupakan
13
sistem sensoris yang berfungsi penting dalam keseimbangan, kontrol kepala,
dan gerak bola mata. Sistem vestibular bereaksi sangat cepat sehingga
membantu mempertahankan keseimbangan tubuh dengan mengontrol otot-otot
postural (Bryant, 2002).
2) Respon – Respon Otot Yang Sinergis (Postural Muscles
Response
Synergies)
Respon otot-otot postural yang sinergis mengarah pada waktu dan jarak
dari aktivitas kelompok otot yang diperlukan untuk mempertahankan
keseimbangan dan kontrol postur. Beberapa kelompok otot baik pada
ekstremitas atas maupun bahwa berfungsi mempertahankan postur saat berdiri
tegak serta mengatur keseimbangan tubuh dalam berbagai gerakan.
Keseimbangan pada tubuh dalam berbagai posisi hanya akan dimungkinkan
jika respon dari otot-otot postural bekerja secara sinergis sebagai reaksi dari
perubahan posisi, titik tumpu, gaya gravitasi, dan aligment tubuh. Kerja otot
yang sinergis berarti bahwa adanya respon yang tepat (kecepatan dan
kekuatan) suatu otot terhadap otot yang lainnya dalam melakuakan fungsi
gerak tertentu (Kevin, 2000).
3) Kekuatan Otot
Kekuatan otot dapat digambarkan sebagai kemampuan otot menahan
beban baik berupa beban eksternal (external force) maupun beban internal
(internal force). Kekuatan otot sangat berhubungan dengan sistem
neuromuskuler yaitu seberapa besar kemampuan sistem saraf mengaktifasi
14
otot untuk melakukan kontraksi. Sehingga semangkin banyak serabut otot
yang teraktifasi, maka semangkin besar pula kekuatan yang dihasilkan otot
tersebut. Kekuatan otot kaki, lutut serta pinggul harus adekuat untuk
mempertahankan keseimbangan tubuh saat adanya gaya dari luar. Kekuatan
otot tersebut berhubungan langsung dengan kemampuan otot untuk melawan
gaya
grvitasi
serta
beban
eksternal
lainnya
secara terus
menerus
mempengaruhi posisi tubuh (Kumar, 2004).
4) Kemampuan adaptasi (Adaptive System)
Kemampuan adaptasi akan memodifikasi input sensoris dan keluaran
motorik (output) ketika terjadi perubahan tempat sesuai dengan karakteristik
lingkungan.
5) Lingkup Gerak Sendi (Joint Range Of Motion)
Kemampuan sendi untuk membantu gerak tubuh dan mengarahkan
gerakan terutama saat gerakan yang memerlukan keseimbangan tinggi
(Carolyn, 2007).
B. Faktor - Faktor Yang Mempengaruhi Keseimbangan
Adapun faktor - faktor yang mempengaruhi keseimbangan adalah:
1) Pusat Gravitasi (Center Of Gravity – COG)
Pusat gravitasi terdapat pada semua objek, pada benda, pusat gravitasi
terletak tepat ditengah benda tersebut. Pusat gravitasi adalah titik utama pada
tubuh yang akan mendistribusikan massa tubuh secara merata. Bila tubuh
15
selalu ditopang oleh titik ini, maka tubuh dalam keadaan seimbangan. Pada
manusia, pusat gravitasi berpindah sesuai dengan arah atau perubahan berat.
Pusat gravitasi manusia ketika berdiri tegak adalah tepat di atas pinggang
diantara depan dan belakang vertebrae sakrum ke dua. Derajat stabilisasi
tubuh dipengaruhi oleh empat faktor, yaitu: ketinggian dari titik pusat
gravitasi dengan bidang tumpu, ukuran tumpu, lokasi garis gravitasi dengan
bidang tumpu, serta berat badan (John, 2008).
2) Garis Gravitasi (Line Of Gravity-LOG)
Garis gravitasi merupakan garis imajiner yang berada vertikal melalui
pusat gravitasi dengan pusat bumi. Hubungan antara garis gravitasi, pusat
gravitasi dengan bidang tumpu adalah menentukan derajat stabilitas tubuh
(John, 2008).
3) Bidang Tumpu (Base Of Support-BOS)
Bidang tumpu merupakan bagian dari tubuh yang berhubungan dengan
permukaan tumpuan. Ketika garis gravitasi tepat berada di bidang tumpu,
tubuh dalam keadaan seimbang. Stabilitas yang baik terbentuk dari luasnya
area bidang tumpu. Semangkin bessar biddang tumpu, semangkin tinggi
stabilitas. Misalnya berdiri dengan kedua kaki akan lebih stabil dibanding
berdiri dengan satu kaki. Semangkin dekat bidang tumpu dengan pusat
gravitasi, maka stabilitas tubuh mangkin tinggi (John, 2008).
16
5. Kecepatan Reaksi
Kecepatan reaksi adalah waktu yang diperlukan untuk memberikan respon
kinetik setelah menerima suatu stimulus atau rangsangan. Karena melalui
rangsangan (stimulus) reaksi tersebut mendapat sumber dari: pendengaran,
pandangan (visual), rabaan maupun gabungan antara pendengaran dan rabaan.
Neurofisiologis melibatkan potensiasi perubahan karakteristik kekuatan kecepatan
komponen kontraktil otot disebabkan oleh bentangan aksi otot konsentris dengan
menggunakan reflex regang. Reflex regang adalah respon paksa tubuh untuk
stimulus eksternal yang membentang otot (Nenggala, 2007).
6. Koordinasi Neuromuscular
Merupakan kemampuan untuk mengintegrasi indera (visual, auditori, dan
proprioceptive untuk mengetahui jarak pada posisi tubuh) dengan fungsi motorik
untuk menghasilkan akurasi dan kemampuan bergerak. Selain itu masih terdapat
faktor – faktor lain yang mempengaruhi agility yaitu:
a) Usia : The Shuttle Run 30 feet, menunjukan bahwa anak laki-laki rata-rata
mangkin bertambah baik mulai usia 12 tahun, sedang anak wanita tidak lagi
bertambah baik setelah usia 13 tahun.
b) Jenis Kelamin : Anak pria memperlihatkan kelincahan yang lebih baik dari
pada wanita sebelum mereka mencapai usia pubertas. Setelah pubertas
perbedaan tersebut lebih mencolok.
c) Berat Badan : Berat badan yang berlebihan secara langsung akan mengurangi
kelincahan. Dimana berat badan yang berlebihan cenderung mengakibatkan
muscle imbalance di bagian trunk.
17
d) Kekelahan : Kelelahan dapat mempengaruhi kelincahan, karena orang yang
lelah akan menurun kecepatan lari dan koordinasinya.
2.1.2
Agility Pada Remaja
Pada remaja kemampuan berkembang secara fisik masih sangat baik.
Waktu utama untuk pertumbuhan otot yang optimal adalah pada akhir masa
remaja antara usia 18-19 tahun dan sepanjang usia 20 tahun. Pada kisaran ini
kadar testosteron berada pada puncaknya yang disebut dengan masa pubertas.
Pada usia ini remaja sudah memiliki komponen kebugaran yang bersifat
keterampilan seperti; koordinasi, kecepatan, ketepatan, daya ledak, dan agility.
Komponen yang terdapat dalam agility yang harus dimiliki oleh remaja adalah
kekuatan
otot,
fleksibilitas,
kecepatan,
keseimbangan,
dan
koordinasi
neuromuskular. Manfaat agility pada remaja pada umumnya memfasilitasi
gerakan-gerakan dengan segala kelincahan yang dimilikinya pada usia produktif
seorang remaja (Mark, 2010).
Pengukuran Agility pada remaja dengan tes right-boomerang run, di
kategorikan menjadi 5 tingkatan seperti pada tabel dibawah ini (Tomchuk, 2011).
Table 2.1
Nilai Tingkat Agility (dalam detik) menggunakan Right-Boomerang Run Test.
Tingkat kinerja
Tingkat tinggi
Lanjutan menengah
Menengah
Lanjutan pemula
Pemula
Skor (detik)
Laki-laki
≤ 10.79
11.49 – 10.80
12.60 – 11.50
13.90 – 12.61
≥ 13.91
Sumber : Pratical Measurement
Perempuan
≤ 12.60
12.99 – 12.61
14.59 - 13.00
15.99 – 14.60
≥ 16.00
18
2.2 Fisiologi Otot Rangka
Otot skeletal mempunyai 4 karakter yaitu, eksitabilitas, kontraktilitas,
ekstensibilitas, elastisitas. Empat karakter ini membuat otot skeletal dapat
merespon stimulus dari impuls saraf, dapat berkontraksi dengan memendekkan
ukurannya, dapat terulur dan kembali ke bentuk dan panjang semula setelah
memendek atau memanjang. Kontraksi yang terjadi pada otot ini adalah kontraksi
yang disadari. Fungsinya adalah sebagai penggerak tubuh, mempertahankan dan
memelihara postur, dan memproduksi panas (Guyton, 2006).
Gambar. 2.1. Struktur Otot Skeletal
Sumber: Hansen John T & Bruce M Koeppen (2002), Netter’s Atlas of
Human Physiology
Otot skeletal melekat pada tulang melalui tendon yang terdiri dari jaringan
ikat, jaringan ikat ini juga menyelubungi seluruh otot yang disebut sebagai
epimisium. Satu bagian dari otot skeletal terdiri dari banyak fasikulus yang
dibungkus oleh jaringan ikat yang bernama perimisium. Fasikulus sendiri terdiri
dari banyak serabut otot, atau sel otot yang juga diselubungi oleh jaringan ikat
yang disebut endomisium (John, 2002).
19
Sel otot disusun oleh banyak myofibril yang terbuat dari molekul protein
panjang yang disebut miofilamen. Ada dua jenis miofilamen dalam miofibril,
yaitu miofilamen tebal dan miofilamen tipis. Miofilamen tebal berwarna lebih
gelap dari miofilamen tipis sehingga otot skeletal disebut juga otot lurik karena
dalam pandangan mikroskopik terlihat susunan kedua miofilamen tadi yang
berbeda warna dan membentuk pola lurik (John, 2002).
Miofilamen tebal dan miofilamen tipis membentuk sebuah subunit yang
saling bersambung dalam miofilamen yang disebut sebagai sarkomer, Dalam
sebuah sarkomer thin miofilamen terletak di pinggir mengapit miofilamen tebal.
Sehingga dalam pandangan mikroskopik tampak daerah pinggir sarkomer lebih
terang dengan tengah yang yang berwarna lebih gelap, daerah terang disebut
dengan I-band dan daerah gelap disebut dengan A-band. Pada tengah tengah Iband tampak garis gelap yang memisahkan dua sarkomer yang diberi nama ZLine. Jadi sarkomer merupakan daerah antara dua Z-line (John, 2002).
Gambar 2.2 Struktur Myofilamen, Thick and Thin Myofilamen
Sumber: Hansen John T & Bruce M Koeppen (2002), Netter’s Atlas of Human
Physiology
Sel otot diselubungi oleh membran yang bernama sarkolemma, yang seperti
neuron, memiliki potensial membran. Impuls yang berasal dari neuron akan
20
berjalan juga ke sarkolemma yang mengakibatkan sel otot untuk berkontraksi.
Sarkolemma mempunyai lubang didalam strukturnya yang disebut tubulus
melintang, tubulus melintang masuk ke dalam sel otot keseluruh miofibril tanpa
menembusnya dan berfungsi untuk menghantarkan impuls dari sarkolemma
kedalam sel terutama pada struktur lain dalam sel yang menyelubungi myofilamen
yang disebut sarkopasmik retikulum (Guyton, 2006).
Tubulus
melintang
mempunyai
lubang
yang
berhubungan
dengan
sarkoplasmik retikulum untuk menghantarkan impuls. Sarkoplasmik retikulum
mempunyai fungsi utama sebagai gudang penyimpanan ion kalsium. Antara
Sarkoplasmik retikulum dengan sitoplasma sel otot yang disebut sarkoplasma,
terjadi mekanisme pemompaan kalsium. Apabila otot dalam kondisi relaks maka
ada penumpukan ion kalsium yang sangat tinggi dalam sarkoplasmik retikulum
dan sebaliknya konsentrasi ion kalsium dalam sarkoplasma rendah (Guyton,
2006).
Ketika impuls dari saraf datang pada membran sarkoplasmik retikulum maka
terjadi pembukaan membran yang memungkinkan ion kalsium untuk melewatinya
menuju pada sarkoplasma yang akan mempengaruhi miofibril untuk berkontraksi.
Miofilamen tebal merupakan komposisi dari sebuah protein yang disebut
miosin. Sebuah miosin mempunyai ekor yang mempunyai kepala yang keluar dari
filamen, yang nantinya membentuk sebuah cross-bridges dengan molekul aktin
dari miofilamen tipis. (Guyton, 2006).
Kepala miosin tersebut mempunyai dua tempat tautan yaitu, ATP Binding
Site, dan Actin Binding Site. Ketika kepala ini bertemu dengan molekul aktin
21
dalam miofilamen maka akan terjadi pergesaran miosin yang mengakibatkan sel
otot berkontraksi .
Miofilamen tipis sendiri terdiri dari 3 komponen protein, yaitu aktin,
tropomiosin dan troponin. Aktin berupa bulatan yang lonjong yang saling
bergandengan membentuk dua rantai actin yang panjang dalam miofilamen tipis,
tropomiosin seperti benang yang membelit rantai aktin, ujung dari masing-masing
tropomiosin adalah molekul troponin.
Pada otot yang relaks maka molekul miosin menempel pada benang molekul
tropomiosin, ketika ion kalsium mengisi troponin maka akan mengubah bentuk
dan posisi troponin, perubahan ini membuat molekul tropomiosin terdorong dan
menjadikan kepala miosin bersentuhan dengan molekul aktin. Persentuhan ini
akan menjadikan kepala miosin bergeser. Selama pergeseran ini kepala miosin
menempel erat pada aktin sehingga mendorong aktin untuk bergerak.
Pada akhir gerakan ATP masuk dalam cross bridges dan memecah ikatan
antara miosin dan aktin. Kepala miosin akan bergerak kembali kebelakang, pada
saat bergerak ke belakang ATP dipecah sebagai ADP + P dan kepala miosin
kembali berikatan dengan molekul aktin yang lain, ikatan ini membuat terjadinya
lagi gerakan aktin terdorong oleh kepala miosin.
Selama ion kalsium mengisi troponin maka proses ini akan terjadi berulang,
tampak bahwa miofilamen tebal dan tipis seperti bergeser satu sama lain, pada
saat terjadi geseran maka jarak antara dua Z-line dalam sarkomer akan memendek,
akibatnya miofibril akan memendek dan seluruh sel otot akan memendek dan otot
akan tampak berkontraksi.
22
Otot skeletal akan relaks bila tidak ada impuls saraf melalui motor end plates,
ketiadaan impuls mengakibatkan tak ada ion kalsium yang masuk ke sitoplasma
sel karena pintu untuk kalsium masuk menjadi tertutup, dan kalsium akan kembali
mengalir masuk dalam sarkoplasmik retikulum, aliran ini akan menjadikan posisi
troponin kembali normal sehingga posisi tropomiosin kembali normal dan
memutuskan hubungan antara kepala miosin dengan aktin. Ketika kepala miosin
tak lagi berhubungan dengan aktin maka tak ada pergeseran molekul yang terjadi
dan otot kembali relaks.
Pada kejadian lain, ketika kontraksi otot berlangsung dalam waktu yang
lama, maka terjadi penurunan jumlah ATP yang dibutuhkan untuk menggeser
molekul-molekul tadi bergeser. Walaupun kepala miosin masih menempel pada
aktin, karena konsentrasi ion kalsium masih cukup untuk menggerakkan troponin,
namun tak ada pergeseran yang terjadi karena ketiadaan energi untuk
menggerakkan. Kejadian ini disebut muscle fatigue.
Pada kondisi relaks pada otot tetap terjadi tegangan pada sel otot yang
menjaga postur tubuh. Ini merupakan sebuah bentuk refleks pusat yang mengatur
agar ketegangan otot memadai berdasarkan impuls dari saraf propioseptor otot
tanpa menimbulkan gerakan.
Kontraksi otot skeletal berawal dari impuls elektrik yang berasal dari saraf
motorik. Komunikasi antara sistem saraf dengan otot menggunakan sebuah ikatan
yang disebut neuromuscular junction. Hubungan antar dua sel ini seperti
hubungan sinapsis antara dua neuron. Ketika impulse masuk ke ujung saraf (end
plate), neurotransmitter (asetilkoline) dilepaskan ke neuromuscular junction dan
23
masuk ke dalam membran sel otot (sarkolemma) yang akan meningkatkan
permeabilitas membran terhadap natrium (Na+), natrium akan menyebar melalui
tubulus melintang ke arah sarkoplasmik retikulum dan menyebabkan potensial
membran menjadi negatif dan memungkinkan kalcium untuk masuk dari
sarkoplasmik retikulum ke dalam sarkoplasma yang akan menjadikan sel otot
untuk berkontraksi (Guyton, 2006).
Gambar 2.3 Neuromuscular junction
Sumber: Hansen John T & Bruce M Koeppen (2002), Netter’s Atlas of
Human Physiology
Ada dua tipe kontraksi otot skeletal, yaitu isotonik dan isometrik. Kontraksi
Isotonik terdiri dari dua macam jenis kontraksi yang disebut konsentrik dan
eksentrik. Kontraksi konsentrik terjadi bila kontraksi membuat otot memendek
dan dapat menggerakkan sendi. Kontraksi eksentrik lebih berupa kontraksi otot
pada saat memanjang untuk menahan beban. Kontraksi isometrik adalah kontraksi
otot tanpa disertai perubahan panjang otot (Guyton, 2006).
Kontraksi otot skeletal dapat menghasilkan kekuatan yang bervariasi, variasi
ini tergantung dari berapa banyak motor unit yang teraktivasi. Motor unit adalah
kombinasi antara motor neuron dan sel otot yang disarafinya. Di dalam struktur
24
otot skeletal ada banyak sekali motor unit. Semakin banyak jumlah motor unit
yang terstimulsi akan semakin menguatkan kontraksi otot (Guyton, 2006).
2.3 Anatomi dan Biomekanik
2.3.1
Anatomi dan Biomekanik Sendi Lutut
Secara anatomi sendi lutut adalah sendi terbesar pada tubuh manusia.
Sendi ini termasuk jenis synovial hinge joint dengan gerakan yang terjadi
fleksi dan ekstensi. Fungsi dari sendi lutut itu sendiri adalah mempertahankan
tegaknya tubuh, stabilisasi serta meredam tekanan. Karena struktur dan
fungsinya yang kompleks, maka sendi lutut memiliki susunan anatomi dan
biomekanik yang berbeda, sesuai dengan struktur pembentuknya. Fungsi
utama dari knee joint adalah membentuk sikap tubuh, gerak “weight transfer”,
melompat, mendorong, menarik.
A. Struktur Tulang
Sendi lutut dibentuk oleh tiga tulang yaitu tulang femur, tibia, dan patella.
1) Tulang femur: tulang femur merupakan tulang terpanjang dan terbesar
dalam tubuh manusia yang bertugas meneruskan berat tubuh dari
tulang coxae ke tibia sewaktu kita berdiri. Bagian proksimal dari
tulang ini terdiri dari caput femoris yang bersendi dengan acetabullum,
collum femoris dan dua trochanter major. Ujung distal tulang femur
berakhir menjadi dua condylus yaitu epicondylus medialis dan
epicondylus lateralis yang bersendi dengan tibia.
25
2) Tulang tibia: tulang tibia merupakan tulang kuat satu-satunya yang
menghubungkan antara femur dengan pergelangan kaki dan tulang
kaki, serta merupakan tulang penyangga beban. Bagian proksimal
tulang ini bersendi dengan condylus femur dan bagian distal
memanjang ke medialis membentuk malleolus medialis yang bersendi
dengan talus.
3) Tulang patella: patella merupakan tulang sesamoid terbesar pada tubuh
manusia. Tulang ini berbentuk segitiga yang basisnya menghadapi ke
proximal dan apex/puncaknya menghadap ke distal. Tulang ini
mempunyai dua permukaan, yang pertama menghadap ke sendi (facies
articularis) dengan femur dan yang kedua menghadap ke depan (facies
anterior). Facies anterior dapat dibagi menjadi tiga bagian dan
bergabung dengan tendon quadriceps. Pada sepertiga atas merupakan
tempat perlekatan tendon quadriceps, pada sepertiga tengah merupakan
tempat beradanya saluran vascular dan pada sepertiga bawah termasuk
apex merupakan tempat awal ligamentum patella.
gambar 2.4 knee
http://orthoinfo.aaos.org/topic.cfm?topic=a00221
26
B. Articulatio Knee Joint
Sendi lutut atau knee joint dibentuk oleh tiga persendiaan, yaitu :
tibiofemoral joint, patellofemoral joint, dan proksimal tibiofibular joint yang
ditutupi oleh kapsul sendi.
1) Tibiofemoral joint merupakan sendi dengan jenis synovial hinge joint
yang mempunyai 2 derajat kebebasan gerak, dibentuk oleh condylus
femoris dan mempunyai permukaan tidak rata yang dilapisi oleh tulang
rawan yang tebal dan meniscus.
2) Patellofemoral joint merupakan sendi dengan jenis modified plane joint
dan terletak diantara tulang femur dan patella. Sendi ini berfungsi
membantu mekanisme kerja dan mengurangi friction quadriceps.
C. Jaringan spesifik pada sendi lutut
1) Ligamen
Fungsi stabilisasi pasif sendi lutut dilakukan oleh ligamen. Ligamenligamen yang terdapat pada lutut adalah :
a. Ligamen cruciatum anterior membentang dari bagian anterior
fossa intercondyloid tibia melekat pada bagian lateral condylus
femur yang berfungsi untuk mencegah gerakan slide tibia ke
anterior terhadap femur, mencegah hiperekstensi lutut dan
membantu saat rolling dan gliding sendi lutut.
b. Ligamen cruciatum posterior merupakan ligamen berbentuk kipas
membentang dari bagian posterior tibia ke bagian depan atas dari
fossa intercondyloid tibia melekat pada bagian luar depan condylus
27
medialis femur. Ligamen ini berfungsi mengontrol gerakan slide
tibia kebelakang terhadap femur, mencegah hiperekstensi lutut dan
memelihara stabilitas sendi lutut.
c. Ligamen collateral medial merupakan ligamen yang lebar, datar
dan membranosus bandnya terletak pada sisi tengah sendi lutut.
Ligamen ini terletak diposterior permukaan medial sendi
tibiofemoral. Ligamen collateral medial menegang pada gerakan
penuh ROM ekstensi lutut. Ligamen ini berfungsi mejaga gerakan
ekstensi dan mencegah gerakan ke arah luar.
d. Ligamen collateral lateral merupakan ligamen kuat dan melekat di
atas ke belakang epicondylus femur dan dibawah permukaan luar
caput fibula. Ligamen ini berfungsi mengawasi gerakan ekstensi
dan mencegah gerakan ke arah medial. Dalam gerak fleksi lutut
ligamen ini melindungi sisi lateral lutut.
e. Ligamen patellaris merupakan ligamen kuat dan datar yang
melekat pada lower margin patella dengan tuberositas tibia dan
melewati bagian depan atas patella dan serabut superficial yang
berlanjut pada pusat serabut pada tendon quadriceps femoris.
f. Ligamen popliteal oblique menutupi bagian belakang sendi dan
melekat di atas upper margin fossa intercondyloid dan permukaan
belakang femur dan dibawah margin posterior caput tibia. Bagian
tengah terpadu dengan otot gastrocnemius. Ligamen ini berfungsi
mencegah hiperekstensi lutut.
28
g. Ligamen transversal merupakan ligamen yang pendek dan tipis dan
berhubungan dengan margin convex depan meniscus lateral dan
ujung depan meniscus medial. Selain itu terdapat tractus illiotibial
yang berfungsi seperti ligamen yang menghubungkan crista iliaca
dengan condylus latelar femur dan tuberculum lateral tibia. Pada
sendi lutut tractus illiotibial berfungsi untuk stabilisasi ligamen
antara condylus lateral femur dengan tibia.
Gambar 2. 5 Ligamen Of Knee Joint
http://www.webmd.com/pain-management/knee-pain/picture-ofthe-knee
2) Meniscus
Meniscus merupakan struktur yang mengelilingi fibrocartilage pada
permukaan articularis caput tibia. Pada bagian perifer meniscus relatif
lebih tebal dan pada bagian dalam sedikit tipis. Meniscus terdiri dari
jaringan penyambung dengan bahan-bahan serabut collagen yang juga
mengandung sel-sel seperti tulang rawan.
Meniscus dibagi menjadi dua bagian yaitu meniscus medial dan
meniscus lateral. Meniscus lateral berbentuk seperti huruf O yang
berada lebih dekat dengan facetsarticularis, pusat sendi dan terkait
29
dengan eminenceintercondyloid. Meniscus medial berbentuk seperti
huruf C, yang letaknya lebih luas ke belakang dan terkait pada
fossaintercondyloid.
Fungsi meniscus adalah membantu mengurangi tekanan femur di atas
tibia, menambah elastisitas sendi, menyebar tekanan pada cartilago
sehingga menurunkan tekanan antara dua condylus, mengurangi
friction selama gerakan serta membantu ligamen dan capsul sendi
dalam mencegah hiperekstensi sendi.
D. Otot- Otot Knee Joint
Otot-otot lutut dibsgi dalam dua group otot yaitu group otot ektensor dan
group otot fleksor.
1. Group otot ekstensor yaitu M.Quadriceps:
a) M. Rectus Femoris
Origo: ada dua tendon satu melekat di SIAS, satu lagi melekat
dicekungan diatas acetabulum.
Insersio: permukanaan patella sampai ke tuberositas tibie.
Inervasi: N.Femoralis (L2)
b) M.Vastus Medialis
Origo : Interochanter line, line aspira, medial supracondilair line
femur.
Insertio: melekat ditepi lateral patella dan melewati ligamentum
patella sampai ankle tuberositas tibia.
Inervasi: N. femoralis (L2-L4)
30
c) M.Vastus Intermedius
Origo: permukaan anterior dan lateral 2/3 atas femur.
Insersio: Permukaan lateral dan melalui ligamentum patella sampai
tuberositas tibie.
Inervasi: N femoralis (L2-L4)
d) M. Vastus Lateralis
Origo: Trochanter major femur, introchanter line, line aspira,
tuberositas gluteal.
Insersio: melekat ditepi lateral patella dan melewati ligamentum
patella sampai ankle tuberositas tibia
Inervasi: N. Femoralis (L2-L4)
2. Group Otot Fleksor yaitu M. Hamstring terdiri dari:
a) Biceps Femoris
Origo; long head: tuberositas ichial
Short head: lateral lip linea aspira femur dan lateral intermuskular
femur.
Insersio: melekat disisi lateral caput fibula dan dengan melalui
serabut kecil melekat di condilus lateral tibie.
Inervasi: cabang tibialis N. Ischiadicus (L5,S1,S2)
b) M. Senitendineus
Origo: melekat dicekungan medial distal tuber ichiadikum
Insersio: pada bagian proksimal facies medialis facia cruris
profunda dan terletak disebelah tendo m.sartorius.
31
Inervasi: cabang tibialis N. Ischiadikus (l5,S1,S2)
c) M. semimembranosus
Origo: dibagian proksimal dan permukaan luar tuberositas
ischiadikum
Insersio: Kondilus medialis tibie
Inervasi: cabang tibial N. Ischiadikus (L5,S1,S2)
3. Kelompok Otot Pes Anserinus
a) M. Sartorius: berasal dari spina illiaca anterior dan berjalan miring
melewati paha dalam facianya menuju ke pes anserinus superficial
dan diletakan pada fascia cruralis dan medialis terhadap tuberositas
tibia. M Sartorius bekerja pada dua sendi, sebagai fleksor pada
sendi lutut dan bila lutut fleksi, bersama-sama dengan otot lain pes
anserinus berfungsi sebagai rotator medialis tungkai bawah. Selain
itu juga sebagai fleksor pada sendi panggul. Berdasarkan jalannya
otot tersebut juga berfungsi sebagai rotator lateralis pada sendi
panggul. M. Sartorius dipersarafi oleh N. femoralis (L2-L3)
b) M. Gracillis: Hanya kelompok otot-otot adductor bekerja pada dua
sendi, otot ini membentang sampai sejauh fascies medialis tibia
yang
berinsersio
bersama
dengan
m.semitendinosus
dan
m,Sartorius sebagai pes anserinus superficialis otot ini terletak
paling medialis langsung dibawah permukaan dan bila paha
adduksi tampak jelas gambaran lengkungannya dibawah kulit. Bila
lutut dilakukan ekstensi m.gracillis bekerja sebagai adductor paha
32
dan fleksor sendi panggul begitu juga dapat melakukan fleksi sendi
lutut. Pada daerah pes anserinus di antara tiga tendo insertion otot
tersebut dan tibia selalu terdapat bursa yaitu bursa anserina. M.
gracillis dipersarafi oleh N.Obturatorius r.anterior (L2-L4)
c) M. semitendinous: berasal dari tuber ischiadicum dan berjalan ke
fascies medialis tibia bersama-sama dengan m.gracilis dan
m.sartorius untuk bergabung dengan pes anserinus supereficialis.
Disini juga terdapat bursa anserine diantara permukaan tibia dan
terdapat perlekatan paada pes anserinus. Otot ini bekerja pada dua
sendi, ekstensi pada sendi panggul dan fleksi pada sendi lutut dari
rotasi medialis tungkai bawah.
d) M. tensor fascia latae: berasal dari daerah spina illiaca anterior
superior dan membentang kedistal sampai trochanter major terus
ke tractus illiotibialis, berinsertio pada condylus lateralis tibia. Otot
menekan caput femoralis ke acetabulum. Otot ini juga sebagai
fleksor, rotator medialis dan abductor, serta membantu berkasberkas anterior m.gluteus medius dan m.gluteus minimus. M.tensor
fascia latae dipersarafi oleh N.Gluteus Superior (L4-L5)
e) M. gstrocnemius: Berasal dari bagian proksimal condylus medialis
femoris dengan caput medial dan caput lateral disebelah proksimal
condylus lateralis femoris. Beberapa serabut dari caput medial dan
caput lateral juga berasal dari capsula articularis sendi lutut. Kedua
caput tersebut berjalan kedistal, membentuk batas inferior fossa
poplitea dan bergabung dengan tendo m.soleus. otot-otot tersebut
33
berinsertio pada calcanei. Pada saat lutut fleksi m. gastrocnemius
memendek. Oleh karena itu m.gastrocnemius sangat penting pada
proses berjalan yang tidak hanya berperan mengangkat tumit juga
pada fleksi lutut.
E. Osteokinematik dan Artrokinematik lutut
1) Ostekinematik
Osteokinematik adalah gerak sendi yang dilihat dari gerak tulang saja.
Pada osteokinematik gerakan yang terjadi berupa gerak rotasi ayun, rotasi
putar, dan rotasi spin. Sendi tibiofemoral merupakan sendi synovuial hinge
(sendi engsel) dengan dua derajat kebebasan gerak rotasi ayun dan spin
sebagai gerak fisiologis. Fleksi-ekstensi terjadi pada bidang sagital di
sekitar axis medio-lateral dengan gerak rotasi ayun. Eksternal rotasiinternal rotasi terjadi pada bidang ternasversal di sekitar axis vertical
(longitudinal) dengan gerak rotasi spin pada posisi kaki menekuk.
Ketidaksesuaian sendi tibiofemoral dikombinasikan dengan aktifitas otot
dan penguluran ligament akan menghasilkan gerakan rotasi secara
otomatis. Gerak rotasi yang terjadi secara otomatis. Gerak rotasi yang
terjadi secara otomatis ini terdapat secara primer pada gerak ektensi penuh
sebagai gerak perhentian dari kondilus lateral yang lebih panjang.
Pada ekstensi terakhir terjadi rotasi eksternal tibia yang dikenal closed
rotation phenomen. Disamping itu juga terjadi gerak valgus. ROM pasif
gerak fleksi umumnya sekitar 130°-140°. Hiperekstensi berkisar 5°-10°
dalam bats normalnya. Gerak rotasi yang terbesar terjadi pada posis lutut
34
fleksi 90°, dimana lateral rotasinya sebesar 45° dan medial rotasi sebesar
15°.
2) Artrokinematik
Arthokinematik adalah gerakan yang terjadi pada permukaan sendi.
Pada arthokinematik gerakan yang terjadi berupa gerak roll dan slide. Dari
kedua gerak tersebut dapat diuraikan lagi menjadi gerak traksi-kompresi,
translasi, dan spin. Asimetri dari sendi tibiofemoral dan kenyataan bahwa
permukaan sendi pada femur lebih dari pada tibia (saat kondisi weigh
bearing). Condylus femoral harus melakukan gerakan rolling kea rah
posterior dan sliding kea rah anterior. Pada gerak ekstensi, condylus
femoralis rolling kea rah anterior dan sliding kea rah posterior. Pada akhir
gerak ekstensi, gerakan dihentikan pada condylus femoralislateral, tapi
sliding pada condylus medial tetap berlanjut untuk menghasilkan
penguncian sendi.
Pada gerak aktif non weight bearing permukaan sendi p[ada tibia
concave melakukan gerak slide pada condylus femoral yang conceks
dengan arah gerakan searah sumbu tulang tibia. Condylus tibia melakukan
gerak slide kea rah posterior pada condylus femoral saat fleksi. Selama
ekstensi dari gerak full fleksi condylus tibia bergerak kea rah anterior pada
condylus femoral. Patella bergeser ke arah superior saat ekstensi, dan
bergeser ke inferior saat fleksi. Beberapa gerak rotasi patella dan tilting
yang terjadi berhubungan dengan gerak sliding saat fleksi dan ekstensi.
35
Artrokinematik adalah gerakan yang terjadi pada permukaan sendi.
Pada artrokinematik gerakan yang terjadi berupa gerak roll and slide. Dari
kedua gerak tersebut dapat diuraikan lagi menjadi gerak traksi – kompresi,
translasi, dan spin.
Incongruence dari sendi tibiofemoral dan kenyataan bahwa permukaan
sendi pada femur lebih besar daripada tibia (saat kondisi weight bearing).
Condylus femoral harus melakukan gerak rolling dan sliding untuk tetap
berada diatas tibia. Pada gerak fleksi dengan weight bearing, condylus
femoris rolling ke arah posterior dan sliding ke arah anterior. Pada gerak
ekstensi condylus femoralis rolling ke arah anterior dan sliding ke arah
posterior, gerakan dihentikan condylus femoralis lateral, tapi sliding pada
condylus medial tetap berlanjut untuk menghasilkan penguncian sendi.
Pada gerakan aktif non weight bearing, permukaan sendi pada tibia
yang concave melakukan gerak slide pada condylus femoral yang conveks
dengan arah gerakan searah sumbu tulang tibia. Condylus tibia melakukan
gerak slide ke arah posterior pada condylus femoral saat fleksi. Selama
ekstensi dari gerak full fleksi condylus tibia bergerak ke arah anterior pada
condylus femoral. Patella bergeser ke arah superior saat ekstensi, dan
bergeser ke inferior saat fleksi. Beberapa gerak rotasi patella dan tilting
yang terjadi berhubungan dengan gerak sliding saat fleksi dan ekstensi.
2.3.2
Anatomi Dan Biomekanik Ankle And Foot Joint
Regio ankle and foot joint merupakan struktur yang komplek dan
yang paling dinamis pada tubuh manusia. Ankle and foot joint
bergerak
36
bersama-sama dengan anggota tubuh lainnya selama berdiri dan berjalan.
Talus merupakan mekanisme kunci pada puncak kaki, terdiri dari bagian
corpus, colum dan caput. Bagian superior dan pinggir corpus berfungsi
menyokong dan berartikulasi dengan tibia dan fibula.
A. Osteologi
Ankle and foot dibentuk oleh ujung distal sebagai “garpu” bersendi
langsung dengan:
1) Os tallus (sendi paling atas)
2) Os calcaneus
3) Os Navicularis
4) Os Cuboideus
5) Os cuneiforme lateral, middle, dan medial
6) Ossa metatarsal (5 buah)
7) Ossa Phalageal (14 buah)
Dua arcus pada pergelangan kaki yaitu arcus longitudinal dan arcus
transversal:
1) Arcus longitudinal: merupakan kontinum dari calcaneus dan caput
metatarsal.
2) Arcus transversal: bagian proksimal dibatasi os cuboideum, lateral
cuneiforme lebih cekung dan pada bagian distal oleh caput
metatarsalia yang lebih datar.
37
B. Otot Pada Ankle Joint
1) M. gastrocnemius
Berasal dari bagian proksimal condylus medialis femoris dengan caput
medial dan dengan caput lateral disebelah proksimal condylus lateralis
femoris. Beberapa serabut dari caput medial dan caput lateral juga
berasal dari capsula articularis sendi lutut. Kedua caput tersebut
berjalan ke distalis, membentuk batas inferior fossa poplitea dan
bergabung dengan tendo m.soleus, otot-otot tersebut berinsertio pada
tuber calcanei. Fungsinya untuk plantar fleksi pedis, fleksi cruris serta
cendrung untuk supinasi pedis.
2) M. soleus
Berasal dari caput fibula dan sepertiga atas facies dorsalis fibula, dari
linea musculi solei pada tibia dan dari arcus tendineus antara caput
fibula dan tibia yaitu arcus tendineus musculi solei terletak di distalis
m.popliteus. ujung tendo besar otot bersatu dengan ujung tendo
m.gastrocnemius dan berinsertio pada tubercalcanei sebagai tendo
calcaneus (achilles tendon). Fungsinya untuk plantar fleksi pedis.
3) M. tibialis anterior
Berasal dari daerah yang lebar yaitu facies lateralis tibia, membrane
interossea dan fascia cruris. Otot ini mempunyai venter tiga sisi yang
berakhir pada tendo yang berjalan dibawah retinaculum musculorum
extensorum superior dan retinaculum musculorum extensorum inferior
dan dibungkus oleh selubung synovial. Otot ini berinsertio pada facies
plantaris os cuneiforme medial dan os metatarsal pertama. Otot ini di
38
innervasi oleh n. peroneus (fibularis) profundus L4-L5. Fungsinya
untuk dorsal fleksi dan supinasi (adduksi dan inverse) pedis.
4) M. tibialis posterior
Berasal dari membrane interossea dan permukaan tibia yang
berhubungan dengan fibula. Tendo turun ke bawah pada sulcus
malleolus di belakang malleolus medial dalam selubung synovial di
antara sustenaculum tali dan tuberositas ossis navicularis dan sampai
ke telapak kaki. Otot ini dibagi atas dua bagian. Yang tebal adalah pars
medial melekat pada tuberositas ossis navicularis, sedangkan bagian
lateral merupakan bagian lemah, berinsertio pada ketiga tulang
cuneiforme. Insertio otot ini dapat memanjang sampai ke basis ossa
metatarsalia II, III, dan IV. Otot ini di innervasi oleh N. tibialis (L4L5). Fungsinya untuk supinasi (adduksi dan inverse) dan plantar fleksi
pedis.
5) M. peroneus longus
Berasal dari capsula articularis sendi tibiofibularis, caput fibula dan
bagian proksimal fibula. Otot ini berakhir berupa tendo panjang yang
berjalan dibelakang malleolus lateralis melewati alur dibelakang
malleolus fibularis di dalam selubung synovial bersama dengan tendo
m.peroneus brevis, berjalan dibawah retinaculum musculorum
perineum superius. Tendo m.peroneus longus membentang ke distal
trochlea peroneal calcanei dalam suatu lekukan selubung synovial
bersama yang difikasai oleh retinaculum perineum inferius, menyilang
facies plantaris ke tuberositas ossis metatarsalis primi dan os
39
cuneiforme medial. Tendo ini mencapai tempat insertion dengan jalan
melalui sulcus tendinitis musculi peronei longi ossis cuboidei di dalam
saluran fibrosa yang berjalan dari sisi lateralis di belakang tuberositas
ossis metatarsalis quinti miring kea rah pinggir medialis kaki. Di
dalam saluran ini pada telapak kaki selubung synovial lain menutupi
tendo. Oleh karena cara jalan tendo tersebut hingga fungsinya mirip
dengan tali haluan (kummer) dan menyangga arcus transversalis pedis.
Tendo ini menekan pinggir medialis kaki dan bersama-sama dengan
m.peroneus brevis, merupakan pronator yang paling kuat. Otot ini di
innervasi oleh N.peroneus (fibularis) superficialis (L5-S1). Fungsi
untuk pronasi (abduksi dan eversi) dan plantar fleksi pedis.
6) M. peroneus brevis
Berasal dari facies lateralis fibula. Tendo otot ini bersama-sama
dengan tendo m. peroneus longus berjalan dalam selubung synovial
yang sama pada sulcul tendinis musculi peronei longi, dibawah
retinaculum musculorum superius. Pada facies lateralis calcanei, tendo
otot ini terfiksasi bagian proksimalisnya yaitu di atas trochlea
peronealis calcanei oleh retinaculum musculorum perineum inferius di
mana
terdapat
evaganasi
selubung
synovial
bersama
yang
membungkus tendon. Tendon ini melekat pada tuberositas ossis
metatarlis quinti. Otot ini bekerja seperti m.peroneus longus. Otot ini
innervasi oleh N.Peroneus (fibularis) superficialis L5-S1. Fungsinya
untuk pronasi (abduksi dan eversi) dan plantar fleksi pedis.
40
C. Tendon
Pada daerah dorsum pedis selubung synovial terdapat tendom musculus
tibialis anterior, ekstensor hallucis longus dan ekstensor digitorum lobgus.
Tendon-tendon dan selubung tendon pada daerah ini terkait pada tempatnya
oleh retinaculum musculorum ekstensor inferior. Pada sisi lateral os tarsal di
daerah trochlea peroneal os calcaneus terdapat selubung tendon peroneal
bersama untuk musculi peronei. Tendon musculus peroneus longus
meninggalkan selubung tendon synovial dan melanjutkan diri menyilang di
daerah plantaris di dalam selubungnya sendiri. Selubung tendon bersama
untuk musculi peronei tefiksasi pada tempatnya oleh retinaculum musculus
peroneus superior dan retinaculum musculus peroneus inferior. Tendontendon otot-otot fleksor terletak pada sisi medial di belakang malleolus
medial. Selubung-selubung tendonnya berjalan di bawah retinaculum
musculus fleksor pedis (ligamentum lacinatum) yang terdiri dari lapisan
superficial, memperkuat fascia cruris dan lapiasan profunda. Dibawah lapisan
ini lewat tiga tendon masing-masing terbungkus oleh selubung sinovialnya
sendiri diantaranya musculus tibialis posterior, fleksor digitorum longus dan
fleksor hallucis longus.
Pada bagian plantaris terdapat lima selubung tendon sesuai dengan jari
masing-masing. Selubung ini tidak berhubungan satu dengan yang lain dan
diperkuat oleh selunbung fibrosa yang masing-masing terdiri dari berkasberkas seranut sirkular dan terletak pada daerah sendi. Pars cruciform diantara
sendi-sendi dan persilangan kumpulan serabut-serabut jaringan penyambung.
Pada bagian rongga tengah facies plantaris tidak ditemui selubung tendon.
41
D. Ligament
Ligament pada ankle joint dapat dibagi dalam
ligament
talonaviculare,
ligament
beberapa bagian yaitu
talocalcaneum
lateral,
ligament
talocalcaneum medial dan ligament talocalcaneum posterior, ligament tarsi
dorsal
termasuk
calcaneonavicular
ligament
bifurcatum
dancalcaneocuboid,
dengan
ligament
serabut
intercuneiform
ligament
dorsal,
ligament cuboidonaviculare dorsal, ligament cuneonavicular dorsal dan
ligament calcaneocuboid dorsal.
Ligament tarsi plantaria menghubungkan masing-masing ossa tarsi pada
permukaan plantaris. Ligament tersebut meliputi ligament plantar longum
yang berjalan dari tuberositas calcanei ke cuboid dan ossi metatarsal.
Ligament calcaneinavicular plantar atau spring ligament sangat penting untuk
stabilisai
kaki.
Pars
medial
ligament
plantar
longum,
ligament
calcanecuboideum plantar merupakan bagian yang sangat penting. Selain itu
juga terdapat ligament cuneonavicular plantar, ligament cuboideonavicular
plantar, ligament intercuneiform plantar, ligament cuneocuboid plantar dan
ligamenta interossea yaitu ligament intercuneiform interossea. Pada ligament
antara tarsal dan metatarsal terdapat ligament tarsometatarso dorsal, ligament
tarsometatarso plantar dan ligament cuneometatarso dorsal, ligament
tarsometatarso plantar dan ligament cuneometatarsal interossea. Diantara ossa
metatarsalia terdapat ligament metatarsal interossea dorsal dan plantar yang
terletak pada basis metatarsal.
42
E. Arthrokinematik dan Osteokinematik
1) Talocrurale joint (Ankle Joint)
Sendi ini dibentuk oleh cruris (tibia dan fibula) dan os. Talus,
permukaan sendi talus yang berbentuk silinder, yang juga disebut
gulungan talus. Ankle fork terdiri dari ujung-ujung distal tibia dan fibula,
yang dijaga sehingga tetap bersatu oleh dua ligamentum yang kuat, yaitu
ligamentum tibiafibulare anterior dan posterior. Talocrurale joint secara
fungsional dapat dianggap sebagai hinge joint.
Gerakan-gerakan yang memungkinkan adalah fleksi dorsal dan fleksi
plantar. Tiga ligamentum yang kuat yang secara bersamaan membentuk
huruf T berjalan dari malleolus lateralis adalah ligamentum talo fibulare.
Demikian pula terdapat ligamentum pada sisi medial yang berjalan dari
malleolus medialis adalah ligamentum tibiotalar anterior, posterior,
ligamentum
tibiocalcaneale
dan
ligamentum
tibionaviculare
yang
membentuk satu kesatuan yangdisebut ligamentum deltoideum. Bila kaki
dalam posisi sudut 90° (posisi netral), maka besar fleksi plantar kira-kira
90°. Kira-kira separuh dari fleksi plantar (45°) terjadi di dalam talocrurale
joint, fleksi dorsal sebesar 20°. Gerakan fleksi plantar ditahan oleh
ligamentum – ligamentum yang berjalan dari malleoli bagian depan ke
punggung kaki, yaitu ligamentum talo fibulare anterior, ligamentum
tibiotalar anterior dan ligamentum posterior tetapi terutama oleh tendon
Achilles.
Osteokinematik berupa gerak plantar fleksi dengan lingkup gerak sendi
antara 40-50° dengan hard end feel, sedamhkan gerak dorsal fleksi ROM
43
antara 20-30° dengan elastic end feel. Gerakan plantar fleksi ditahan oleh
ligamentum-ligamentum yang berjalan dari malleolus bagian depan
kepunggung kaki, yaitu ligamentum tallofibular anterior, ligamentum
tibiotalar anterior dan ligamentum posterior.
Arthrokinematik gerakan traksi terhadap talus ke arah distal, dan
tranlasi untuk gerakan dorsal flexion kea rah posterior dan untuk plantar
flexion kea rah anterior.
2) Talocalcanel Joint (Sub Talar Joint)
Talocalcanel joint merupakan sendi yang terletak antara talus dan
calcaneus. Gerakan yang terjadi adalah gerak varus dan gerak valgus.
Semangkin besar posisi kaki dalam fleksi plantar, semangkin besar
kemiringan varusnya. Osteokinematik gerakan yang terjadi abduksi
(Valgus)
dan
adduksi
dengan
ROM
keduanya
hard
end
feel.
Arthrokinematik gerakan traction calcaneus kea rah distal terhadap os
talus.
3) Intertarsal joint
Intertarsal joint merupakan non axial joint yang bersendi antara tulang
tarsal dan hanya menghasilkan gerakan slide. Intertarsal joint atas 5 sendi
yaitu:
a) Talocalcaneo navicular joint: memiliki cekungan permukaan sendi
yang kompleks, termasuk jenis plane joint. Diperkuat oleh
ligament plantar calcaneonavicular
b) Calcaneocuboid joint: merupakan plan joint(sendi datar). Bersama
talonavicular membentuk tranvers tarsal joint. Diperkuat oleh
44
ligament spring, ligament dorsa navicular, ligament bifurcatum,
ligament calcaneocuboid, ligament plantar calcaneocuboid
c) Caneo navicular joint: navicular bersendi dengan cuniforme I,II,III
yang berbentuk cancave. Cuniforme bagian plantar berukuran lebih
kecil sehingga bersama cuboid membentuk arcus transverse. Gerak
utama plantar dan dorsal fleksi. Saat plantar fleksi terjadi gerak
luncur cuneiform eke plantar.
d) Cuboideonavicular
joint: cuniforme III dan merupakan sendi
utamanya, berupa plane joint. Gerak yang terjadi adalah inverse
dan eversi. Saat inverse cuboid translasi ke plantar medial terhadap
cuneiforme III.
e) Intercuneiform
joint:
bersama
navicular
membentuk
arcus
transverse, saat gerakan pronasi-supinasi atau inverse-eversi terjadi
pengurangan dan penambahan pada arcus. Arthrokinematiknya
berupa translasi antar tulang tarsal.
4) Tarso Metatarsal joint
Cuneiforms I – II – III bersendi dengan metatarsal I – II – III, cuboid
bersendi dengan metatarsal IV – V. Metatarsal II ke proximal sehingga
bersendi juga dengan cuneiforme I & III, sehingga sendi ini paling stabil
dan geraknya sangat kecil. Gerakan pada sendi ini plantar dan dorsal
fleksi. Osteokinematik pada plantar flexion terjadi peningkatan arcus. MT
I gerak roll slide ke plantar lateral MT III – IV – V roll slide ke
ventromedial. Arthrokonematic traksi gerak MT ke distal (translasi
searah).
45
5) Metatarsophalangeal joint
Distal metatarsal convex dan basis phalageal concave membentuk
sendi ovoid-hinge. Dengan gerakan flexion-extension dan abductionadduction. MLPP = Extension 11°, CPP= Full Extension. Gerak
translation searah gerak angular, traction selalu kearah distal searah axis
longitudinal phalang dan dengan elastic endfeel.
6) Proksimal dan distal interphalangeal joint
Caput proximal phalang convex dan basis distal phalangeal concave
membentuk sendi hinge. Gerak fleksi-extension. MLPP = Flexion 10°,
CPP = Full Extension. Gerak translation searah gerak angular, traction
selalu searah axis longitudinal phalang.
2.4 Lari (Running)
Sebelum membahas tentang analisa gerak pada saat berlari, akan membahas
tentang analisa pada gerak berjalan dahulu, karena lari merupakan gerakan yang
hamper sama dengan berjalan.
Pada gerakan berjalan ada beberapa tahap yang harus dilalui, yang disebut
dalam satu siklus. Dalam satu siklus berjalan terdiri dari fase melayang (swing
phase) yang terdiri dari akselerasi, mid swing dan deselerasi dan fase menapak
(support phase yang terdiri dari heel strike, mid stance,dan toe off) (David, 2002).
Satu siklus adalah dari heel strike kaki kanan sampai hell strike kaki kiri. Jadi
siklus dibentuk oleh dua langkah. Pada aktivitas berjalan, fase menapak adalah
60% dan fase melayang adalah 40%.
46
Pada gerakan berlari pada prinsipnya sirkulasi berlari sama dengan siklus
berjalan, akan tetapi pada berlari fase menapak adalah 40% dan fase melayang
60%. Sedangkan kecepatan berlari ditentukan oleh panjang langkah dan frequensi
langkah (jumlah langkah yang diambil dalam setiap unit waktu).
Gambar 2.6 Fase Berjalan
Sumber: http://www.lookfor diagnosis.com
Pada dasarnya fase berjalan dan fase berlari memiliki analisa kinesiology yang
sama, hanya pada saat berlari, fleksi hip lebih besar daripada berjalan. Juga pada
saat berlari lutut dalam posisi fleksi yang lebih besar dari pada berjalan dan tidak
pernah ekstensi penuh. Dan dalam pergelangan kaki saat berlari, waktu toe off
posisi kearah plantar fleksi lebih besar dari pada berjalan. Pada aktivitas berlari
pada fase melayang maka hamper semua otot berkontraksi untuk melakukan
gerakan tersebut (David, 2002).
Lari merupakan gerak darat yang memungkinkan manusia dan hewan lain
untuk bergerak cepat dengan berjalan kaki. Ini didefinisikan dalam istilah
olahraga sebagai gaya berjalan dimana titik-titik biasa selama siklus berjalan
dengan kaki berpijak di tanah. Hal ini berbeda dengan berjalan, dimana satu kaki
selelu bersentuhan dengan tanah, dan satu kaki digunakan sebagian besar lurus
dan pusat gravitasi (Biwer,2003). Lalu kaki kiri menapak dan sebelum kaki kanan
47
menapak, kaki kiri telah melakukan gerakan mendorong juga. Demikian
dilakukan terus menerus secara continue. Bila pada saat berjalan hanya terdapat 2
kondisi melangkah dan menapak. Maka pada saat berlari terdapat 3 kondisi, yaitu
melangkah, melayang dan menapak (David, 2002).
2.5 Latihan Eksentrik
Latihan eksentrik merupakan latihan yang melibatkan prestreching otot,
sehingga mengaktifkan Stretch shortening cycle. Prinsip Stretch shorten cycle
dapat digunakan untuk meningkatkan latihan dalam olahraga dimana latihan ini
membutuhkan kekuatan otot secara maksimal dalam jumlah waktu yang minimum
dengan menggunakan propioseptor dan elastis otot untuk menghasilkan kekuatan
yang maksimal. Pada otot cendrung memiliki sifat elastis ketika terulur dengan
cepat seperti karet gelang. Artinya semangkin cepat otot berkontraksi secara
eksentrik, maka semangkin besar pula stretch reflex yang dihasilkan. Kontraksi
eksentrik-konsentrik ini bekerja secara berpasangan sebagai perangsang
propioseptif untuk memfasilitasi peningkatan muscle reqruitment pada waktu
yang minimum atau pada waktu yang singkat. Sehingga peningkatan dalam
system neuromuscular memungkinkan seseorang atau atlit untuk mengontrol
kontraksi ototnya menjadi lebih baik (William, 2007).
Stretch shorten cycle (SSC) memiliki kemampuan penyimpanan energi dari
Series Elastic Componen (SEC) dan stimulasi reflex peregangan untuk
memfasilitasi peningkatan yang maksimal dalam perekrutan otot di atas jumlah
minimal waktu.SSC melibatkan tiga tahap yaitu Serial Elastic Componet (SEC),
Contractil Component (CC), Pararel Elastic Component (PEC). Sementara tabel
48
menggambarkan peristiwa individu SSC mekanik dan neurologis setiap tahap,
penting untuk mengingat bahwa semua peristiwa yang tercantum tidak selalu
terjadi dalam fase tertentu, yaitu beberapa peristiwa dapat bertahan lebih lama
atau mungkin membutuhkan waktu lebih sedikit dari yang diperbolehkan dalam
tahap tertentu, tahap 1 adalah fase eksentrik, yang melibatkan preloading
kelompok otot agonis.
Selama fase ini, SEC sebagai elastic energy, dan spindle otot distimulasi.
Sebagai otot spindle yang membentang, mereka mengirim sinyal ke akar ventral
medulla spimasil melalui serat aferen saraf tipe Ia. Tahap 2 adalah waktu antara
fase eksentrik dan kosentrik dan disebut fase amortisasi atau transisi. Ini adalah
waktu dari akhir fase eksentrik dengan dimulainya aksi otot konsentris (Thomas,
2005).
Faktor yang mempengaruhi stretch shorten cycle adalah daya recoil dan
stretch reflex. Daya recoil merupakan suatu kemampuan untuk kembali ke posisi
awal setelah melakukan penguluran atau pengembangan. Dimana pada latihan
eksentrik stretch reflex yang merangsang dan mengaktifkan peregangan
monosynaptic.
Pada kontraksi eksentrik aktivitas kontraktil melawan peregangan hal ini
dilihat ketika otot quadriceps dan gastroc menurunkan beban selama tindakan ini
serat-serat otot memanjang tetapi tetap berkontraksi melawan peregangan,
ketegangan ini menahan berat badan. Sehingga selama kontraksi eksentrik
kekuatan otot yang dihasilkan dari otot lebih tinggi bila dibandingkan dengan
kontraksi isometrik dan kontraksi konsentrik. Peningkatan kekuatan otot dan
tenaga seperti halnya hipertropi. Hipertropi ini (setara dengan peningkatan area
49
cross-sectional), secara luas dipercaya sebagai penyebab utama perubahan protein
otot skelet dari serabut otot. Namun, karena respon yang bersamaan pada aktifitas
fibroblastik selama latihan eksentrik, hipertropi yang ada mungkin disebabkan
oleh peningkatan ketebalan atau densitas fascia dan komponen elastik seri (SEC)
dalam otot. Oleh karena itu, latihan tipe eksentrik mungkin tidak menyebakan
efek pembesaran ukuran otot (William, 2007).
Pada latihan eksentrik terjadi ketegangan yang dihasilkan dari jembatan silang
meningkat sehingga komponen elastiknya bertambah kuat ini disebabkan karena
memanjangnya leher dari molekul myosin (Hans, 2014)
Pada kontraksi eksentrik pembuluh darah dalam keadaan yang bebas sehingga
memungkinkan nutrisi dan suplai oksigen jadi tercukupi. Dalam latihan eksentrik
ada tiga faktor penting yang saling berhubungan secara sirkuler yaitu gaya otot
(muscle force), kecepatan gerak (speed of movement), dan derajat penguluran
muskulotendinogen (degree of musculotendinous stretch). Pada latihan eksentrik
efek prestretch ini sering digunakan dalam aktivitas fungsional (Hans, 2014)
Latihan eksentrik memerlukan oksigen lebih sedikit dibandingkan dengan
aktifitas konsentrik. Pengambilan oksigen perunit dari aktifitas otot secara
konsisten menunjukkan penurunan sebagai hasil dari latihan dengan tipe
eksentrik. Davies dan Barnes menyimpulkan bahwa efek latihan disebabkan oleh
adaptasi sistem otot dan bukan merupakan akibat dari perubahan sistem
pernapasan. Selama steady stage pengambilan oksigen untuk kerja selama 4
menit, intensitas tinggi dari kinerja hampir setara dengan intensitas rendah pada
konsentrik (Hans, 2014).
50
Tidak ditemukannya konsentrasi laktat dalam darah pada aktifitas eksentrik
menunjukkan bahwa aliran darah tetap adekuat selama latihan eksentrik yang
melelahkan. Karena pengaruh mekanik selama latihan eksentrik yang benar-benar
menyebabkan pekerjaan dikerjakan di dalam otot, sebagai lawannya oleh otot,
perpindahan energi bertanggung jawab pada suatu peningkatan suhu tubuh. Suhu
internal ini selama latihan eksentrik tetap lebih rendah dibandingkan dengan
latihan konsentrik hal ini mungkin disebabkan karena kebutuhan darah otot yang
lebih rendah. Dengan menggunakan mode isotonik, peningkatan kekuatan
eksentrik dilihat dari meningkatnya kecepatan gerakan.
Konsep utama yang mempengaruhi pusat kontrol mekanisme neuromuskular
terpisah menjadi tiga, tetapi mungkin saling terkait, yaitu:
a. Perubahan aktifitas mekanoreseptor (reflex tendon).
b. Perubahan pada myoelektrik dan neural aktivitas dan perekrutan otot.
c. Perubahan respon viskoelstik.
Pada eksentrik, sistem saraf (CNS) mengatur mekanisme proteksi selama
beban maksimum yang mencegah ruptur otot komplit. Hubungan tekanankecepatan akan menampilkan sebuah kestabilan yang diikuti dengan hilangnya
kekuatan secara tiba-tiba. Peran penting dari latihan eksentrik pada sistem
neuromuskular yang didukung ada dua mekanisme yaitu:
a. Penumpukan tenaga putaran adalah bukti bahwa hanya selama beban eksentrik
berlangsung disfungsi biomekanik dan nyeri dapat diabaikan.
b. Respon yang sukses pada latihan eksentrik yang hanya dalam dua sampai
empat minggu terkait dengan waktu adaptasi neuromuskular sebagai kebalikan
dari hipertropi dan perubahan morfologis otot.
51
Sebagai faktor terakhir pada kontrol neuromuskular,
kecepatan mungkin
dapat diubah oleh perubahan level ambang rangsang GTO (gongli tendon organ).
Kekuatan viskoelastik diartikan sebagai level yang dihasilkan dari ketegangan otot
per unit beban stretch yang meningkat selama respon eksentrik otot. Formasi
crossbride akan meningkatkan kekuatan otot, sementara elongasi akan cendrung
meningkatkan tegangan dari sebuah otot yang teraktifasi dengan kuat (William,
2007).
2.6 Latihan Plyometric
Latihan ini bertujuan untuk meningkatkan reaksi rangsangan syaraf
terhadap peningkatan kemampuan reaktif dan sistem neuromuskular. Latihan
plyometric ini melibatkan prestretching otot, sehingga mengaktifkan stretchshorthening cycle. Adaptasi plyometric terhadap prinsip stretch-shorthening dapat
digunakan untuk meningkatkan latihan dalam olahraga. Pada otot cenderung
memiliki sifat elastis ketika terulur dengan cepat seperti karet gelang, artinya
semangkin cepat otot berkontraksi secara eksentrik, maka semangkin besar pula
stretch reflex yang dihasilkan. Kontraksi eksentrik-kosentrik ini bekerja secara
berpasangan sebagai perangsang propioseptif untuk meningkatkan muscle
reqruitment
pada waktu minimum atau pada waktu yang singkat. Sehingga
peningkatan
sistem
neuromuskular
memungkinkan
seseorang
atau
atlit
mengontrol kontraksi ototnya menjadi lebih baik (William, 2007).
Sewaktu terjadi stretch (eksentrik) merupakan kontraksi dimana untuk
mempersiapkan jaringan kontaktil untuk dapat melakukan kontraksi secara
konsentrik (shorthening). Hal ini merangsang dan mengaktifkan terjadinya
52
peregangan monosynaptic. Muscle spindle, panjang otot dan kecepatan
peregangan mengirimkan informasi ke sistem saraf pusat (SSP) yang kemudian
yang kemudian rangsangan ini dikirim ke otot untuk dapat memfasilitasi kontaksi
otot secara konsentrik (shorthening reflex) dari kontraksi eksentrik (stretch
reflex). Fungsi utama dari musle spindle sebagai reseptor regangan. Stretch refleks
memerlukan respon dari sistem sensomotorik yang dibawa langsung dari saraf
sensorik afferent pada muscle spindle ke sumsum tulang belakang untuk
melakukang kontak
dengan saraf motorik untuk dapat merespon otot untuk
berkontraksi konsektrik dengan cepat (Thomas, 2005).
Gambar 2.7: Passive Stretch reflex.
Sumber: Fitness Weight Training, Thomas R. 2005
Muscle spindle (perut otot), golgi tendon organ (GTO) dan persendian
merupakan komponen utama pada propiosepsi. Reseptor stimulus ini dapat
digunakan akibat dari fasilitasi, inhibisi, dan modulasi dari otot agonis dan
antagonis. Muscle spindle dan golgi tendon organ (GTO) sebagai penyedia dasar
propioseptif untuk latihan plyometric.
53
Gambar 2.8 : Muscle Spindle
Sumber: Theraupeutic Exercise for Physical Therapy Asistants, 2007
Golgi tendon organ (GTO) sangat sensitif dengan tegangan yang berada
pada persimpangan antara tendon dengan otot pada bagian distal dan proksimal.
Hal ini disusun dengan serat otot ekstrafursal dan maka dari itu menjadi aktif
dengan peregangan. Tidak sama dengan GTO memiliki penghambat pengaruh
pada otot. Selama terjadi aktivitas dimana rangsangan dikirim ke spinal cord.
Disebabkan inhibisi oleh α motor neuron yang mengkontraksikan otot dan
disinergiskan serta dibatasi oleh kekuatan yang dihasilkan. Ini berdasarkan prinsip
pada GTO yaitu mekanisme protektif akibat kontraksi ataupun terulur yang
berlebihan. Karena GTO setidaknya menggunakan satu interneuron dalam siklus
sinaptik, hambatan yang terjadi memerlukan lebih dari sekedar rangsangan
monosinaptik dari tipe saraf Ia (Bryant, 2002).
Power akan meningkat ketika kekuatan otot dan proses stretch-shorthening
cycle berlangsung dengan cepat sehingga menghasilkan agility yang baik pada
tubuh. Bentuk latihan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan
dalam peningkatan agility, yaitu box jump, knee tuck jump, dan bouding.
54
2.7 Mekanisme Latihan Eksentric M.Gastrocnemius dan Latihan Plyometric
pada peningkatan Agility
Otot gastroknemius atau juga dikenal sebagai leg triceps ini memiliki dua kepala.
Kedua kepala gastrocnemius berorigo pada condylus femoralis. Otot gastrocnemius
berinsertio pada calcaneus dan membentuk tendon Achilles. Dari belakang, kepala
lateral yang terletak lateral tungkai. Kepala medial terletak pada bagian medial
tungkai. Kedua kepala ini bergabung untuk membentuk muscle belly. Serat otot
gastrocnemius sebagian besar fast-twitch fibers. Fast-twitch fibers dapat aktif
berkontraksi dan dalam melakukan gerakan eksplosif dalam waktu yang singkat,
sehingga gastrocnemius yang paling aktif selama gerakan-gerakan seperti melompat
atau berlari. Tendon dari gastrocnemius adalah tendon Achilles. Gastronemius
melewati dua sendi yakni lutut dan pergelangan kaki. Sehingga otot ini berkoordinasi
dengan otot-otot lain untuk bergerak pada masing-masing sendi.
Latihan eksentrik merupakan latihan yang melibatkan prestreching otot, sehingga
mengaktifkan strectch shortening cycle. Prinsip stretch shorten cycle dapat digunakan
untuk meningkatkan latihan dalam olahraga dimana latihan ini membutuhkan
kekuatan otot secara maksimal dalam jumlah waktu yang minimum dengan
menggunakan propioseptor dan elastis otot untuk menghasilkan kekuatan yang
maksimal. Pada otot cendrung memiliki sifat elastis ketika terulur dengan cepat
seperti karet gelang, artinya semangkin cepat otot berkontraksi secara eksentrik, maka
semangkin besar pula stretch reflex yang dihasilkan. Kontraksi eksentrik-konsentrik
ini bekerja secra berpasangan sebagai perangsang propioseftif untuk memfasilitasi
peningkatan muscle reqruitment pada waktu yang minimum atau pada waktu yang
singkat. Sehingga peningkatan dalam sistem neuromuscular memungkinkan
seseorang atau atlit untuk mengontrol kontraksi ototnya menjadi lebih baik.
55
Latihan plyometric ialah latihan yang dirancang untuk meningkatkan kekuatan
otot, kecepatan, dan fleksibilitas. Meningkatnya kekuatan otot, kecepatan, dan
fleksibilitas dikarenakan muscletendinous unit teregang, dalam tindakan eksentrik
otot, Siries Elastic Component (SEC) bertindak seperti pegas dan terus memanjang,
ketika muscletendinous teregang disaat bersamaan energi elastis tersimpan. Jika otot
mulai konsentrik tindakan segera untuk berkontribusi untuk memproduksi kekuatan
secara total dengan cara alami. Apabila muscletendinous teregang secara terus
menerus akan mengakibatkan meningkatnya kekuatan otot, dengan meningkatnya
kekuatan otot alkan mempengaruhi kecepatan dan fleksibilitas, selain itu model
neurofisiologis melibatkan potentiation (merubah karekteristik tekanan, peningkatan
kecepatan komponen jaringan kontraktil otot, akibat dari penguluran konsentrik otot
oleh karena stretch reflek). Stretch reflek adalah respon voluntary tubuh terhadap
stimulasi eksternal dari peregangan otot. Komponen utama reflex dari latihan ini
adalah aktivitas muscle spindle. Muscle spindle adalah organ propioseptive yang
sensitif berdasarkan tingkat dan besarnya stretch. Ketika terjadi quick stretch aktivitas
muscular terjadi akan mengakibatkan terjadinya peningkatan reflex. Selama latihan
plyometric, muscle spindle terstimulasi oleh rapid stretch, sehingga terjadi reflexive
muscle. Respon reflex ini berpotensi atau meningkatkan aktivitasdari otot agonis.
Karena itu peningkatan beban dapat meningkatkan prokduktivitas otot.
Kemampuan otot gastrocnemius berkontraksi dengan cepat dalam menggerakan
plantar fleksi pada pergelangan kaki akan memberikan daya ledak serta power yang
maksimal sehingga kemampuan agility akan meningkat.
56
2.8 Mekanisme Latihan Eksentrik M.Quadriceps dan Latihan Plyometric
pada peningkatan Agility
Otot quadriceps femoris adalah sekumpulan otot besar dan merupakan salah satu
otot yang kuat di tubuh manusia serta ikut menjaga stabilitas sendi lutut. Karena otot
quadriceps femoris merupakan penstabil utama sendi lutut (primary stabilizer), maka
jika terjadi kelemahan pada kelompok otot ini dapat meningkatkan risiko terjadinya
cedera lutut. Otot ini merupakan slah satu otot penting dalam berjalan dan berlari,
yang merupakan kemampuan agility (Hans ,2014).
Latihan eksentrik merupakan latihan yang melibatkan prestreching otot, sehingga
mengaktifkan strectch shortening cycle. Prinsip stretch shorten cycle dapat digunakan
untuk meningkatkan latihan dalam olahraga dimana latihan ini membutuhkan
kekuatan otot secara maksimal dalam jumlah waktu yang minimum dengan
menggunakan propioseptor dan elastis otot untuk menghasilkan kekuatan yang
maksimal. Pada otot cendrung memiliki sifat elastis ketika terulur dengan cepat
seperti karet gelang, artinya semangkin cepat otot berkontraksi secara eksentrik, maka
semangkin besar pula stretch reflex yang dihasilkan. Kontraksi eksentrik-konsentrik
ini bekerja secra berpasangan sebagai perangsang propioseftif untuk memfasilitasi
peningkatan muscle reqruitment pada waktu yang minimum atau pada waktu yang
singkat. Sehingga peningkatan dalam system neuromuskular memungkinkan
seseorang atau atlit untuk mengontrol kontraksi ototnya menjadi lebih baik.
Latihan plyometric ialah latihan yang dirancang untuk meningkatkan kekuatan
otot, kecepatan, dan fleksibilitas. Meningkatnya kekuatan otot, kecepatan, dan
fleksibilitas dikarenakan muscletendinous unit teregang, dalam tindakan eksentrik
otot, Siries Elastic Component (SEC) bertindak seperti pegas dan terus memanjang,
ketika muscletendinous teregang disaat bersamaan energi elastis tersimpan. Jika otot
57
mulai kosentrik tindakan segera untuk berkontribusi untuk memproduksi kekuatan
secara total dengan cara alami. Apabila muscletendinous teregang secara terus
menerus akan mengakibatkan meningkatnya kekuatan otot, dengan meningkatnya
kekuatan otot akan mempengaruhi kecepatan dan fleksibilitas, selain itu model
neurofisiologis melibatkan potentiation (merubah karekteristik tekana, peningkatan
kecepatan komponen jaringan kontraktil otot, akibat dari penguluran consentrik otot
oleh karena stretch reflex). Stretch reflex adalah respon voluntary tubuh terhadap
stimulasi eksternal dari peregangan otot. Komponen utama reflek dari latihan ini
adalah aktivitas muscle spindle. Muscle spindle adalah organ propioseptive yang
sensitive berdasarkan tingkat dan besarnya stretch. Ketika terjadi quick stretch
aktivitas muskular terjadi akan mengakibatkan terjadinya peningkatan reflex. Selama
latihan plyometric, muscle spindle terstimulasi oleh rapid stretch, sehingga terjadi
reflexive muscle. Respon reflex ini berpotensi atau meningkatkan aktivitas dari otot
agonis. Karena itu peningkatan beban dapat meningkatkan produktivitas otot.
Dengan latihan ini waktu yang diperlukan untuk memberikan respon kinetik atas
suatu stimulus atau rangsangan cepat, yang mengakibatkan terjadinya kecepatan
dalam melakukan gerakan. Kemampuan otot quadriceps berkontraksi dengan cepat
untuk menggerakan sendi lutut akan menberikan power yang maksimal yang akan
meningkatkan kemampuan agility.